Masih ada empat laga lagi untuk disebut sukses.
Sukses dalam tiga laga di babak penyisihan grup membuat animo masyarakat membumbung tinggi. Malaysia yang sering mengganggu di daerah perbatasan serta kesemena-menaan terhadap para pekerja kita, diganyang 5-1. Laos, negara yang lolos ke putaran final Piala AFF tahun ini sebagai juara grup babak kualifikasi, dibabat telak setengah lusin tanpa balas. Sementara Thailand, juara Piala AFF (dulu Piala Tiger) tiga kali akhirnya takluk setelah menunggu 25 tahun dalam pertandingan waktu normal.
Sebelum dua gol Bambang Pamungkas membawa Indonesia Berjaya 7 Desember lalu, kemenangan Tim Merah Putih atas Negeri Gajah Putih di waktu normal terakhir lahir di tahun 1985. Saat itu dua kali timnas Indonesia menaklukkan Thailand home and away dalam babak kualifikasi Piala Dunia 1986. Benar Indonesia sempat menjuarai Sea Games di Manila tahun 1991, di partai final Mustaqim cs sukses membawa trofi terakhir bagi Indonesia di ajang resmi. Namun dalam laga ini Indonesia sukses menaklukkan Thailand via drama adu penalty.
Tiga kemenangan Firman Utina cs benar-benar membuat masyarakat membicarakan sepakbola Indonesia di segala waktu dan tempat. Di warung angkringan di daerah Jogjakarta, obrolan seputar permainan ciamik Octovianus Maniani tak pernah selesai sebelum kopi di cangkir habis diseruput. Hingga mall-mall pun tak kunjung usai pembicaraan seutar Firman Utina. Apalagi jika melihat wall di jejaring sosial, semua serba timnas, serba Irfan Bachdim yang kebanyakan malah ditulis kaum hawa. Luar biasa dan memang menggembirakan. Kaum hawa seolah ikut terbawa dalam pesona timnas. Jersey serta jaket timnas laris manis di pasaran. Dari versi original hingga abal-abal terus diburu.
Jika Anda warga Jakarta, tiap latihan timnas di pagi hari, selain para kuli tinta yang selalu setia menunggu, masyarakat juga mulai rajin menyambangi. Dari jumlah puluhan, Jumat lalu mencapai ratusan. Inilah yang mulai dikeluhkan Alfred Riedl. Sang pelatih asal Austria tak ingin fokus persiapan timnas untuk menghadapi dua laga semifinal kontra Filipina di Gelora Bung Karno terganggu.
Riedl dan juga masyarakat, jika tak ingin takabur, hampir pasti Firman Utina cs bakal bermain di partai final. Namun seolah tak ingin para pemain menjadi tak fokus dalam latihan dan malah menyibukkan diri dengan wawancara bersama media serta foto-foto bersama fans, eks pelatih timnas Laos ini memberlakukan aturan ketat. Jika ada pemain melakukan wawancara dengan media di hotel, hukuman ditendang dari skuad bakal dilakukan.
Ketegasan ini seharusnya menyadarkan kita, media dan masyarakat. Dalam sebuah tulisan SUPERSOCCER sebelumnya, Kami media serta Anda masyarakat bisa menjadi dua sisi mata pisau. Dua sisi yang sepertinya belum terlalu terbiasa dihadapi timnas.
Terbiasa dihujat setelah kegagalan yang tak kunjung usai, puji-pujian seperti yang terjadi saat ini tentu menjadi perlakuan “asing” yang dialami para punggawa tim Merah Putih. Mungkin untuk para pemain senior, hal ini tak menjadi masalah. Namun bagi sebagian besar punggawa timnas yang masih hijau, tentu berbahaya.
Oleh karena itu, mari kita menyadari, apa yang dilakukan Riedl beserta seluruh punggawa timnas baru sekedar lolos fase grup. Masih ada empat laga lagi yang harus dilalui untuk disebut berhasil, itu pun harus dilalui dengan hasil positif. Jika 16 dan 19 Desember nanti kita sukses menghajar Filipina, masih ada dua laga di tanggal 26 dan 29 yang lebih berat.
Mari jadikan eforia ini jadi iklim positif bagi persepakbolaan Indonesia. Tetap kibarkan Merah Putih di Gelora Bung Karno!
Go Garuda!!!




0 komentar:
Posting Komentar