"Saya menekel tak sengaja. Lagi pula dia duluan yang pasang kaki. Wasit pun terlalu cepat memberi kartu karena saya baru dua kali bikin pelanggaran." - Ismed Sofyan, pemain Indonesia yang mendapat kartu merah saat imbang 1-1 dengan Kuwait di Senayan hari Rabu (18/11) lalu.
Ini komentar menjengkelkan. Hampir seluruh kawan saya yang meliput di mixed zone stadion cukup kesal ketika melakukan wawancara. Untung mereka dalam rangka kerja. Lain urusan jika jadi suporter.
Tapi buat saya ini sudah jelas. Ismed dan mungkin mayoritas pemain Indonesia tak paham mana main keras dan mana main kasar.
Secara kasat mata, melalui layar kaca dan bukan dari stadion langsung -- kecuali memakai teropong, tekel Ismed memang kasar. Itu bukan lagi keras karena dia menebas kaki lawan dari posisi yang tak memungkinkan merebut bola dan di saat bola sudah hilang sepersekian detik. Hampir seluruh penonton setuju dan komentar di berbagai media online pun mendiskreditkan Ismed.
Pemain berdarah Aceh ini mungkin tak salah sepenuhnya. Dia hanya bisa bermain seperti itu. Menurut Zen, yang duduk di samping saya di stadion malam itu, permainan kasar sudah jadi DNA pemain Indonesia.
Budaya sepakbola Indonesia adalah tarkam. Main di kampung dengan aturan seadanya dan tahu sama tahu sejak masih usia sekolah dasar. Jangan bandingkan dengan budaya sepakbola Italia atau Inggris yang sejak kecil telah digembleng di klub amatir dan semi pro.
Jadi, ketika si pemain kita masuk wilayah pro di kompetisi antar klub tertinggi, filosofi bermain bolanya belum berubah. Siaran langsung sepakbola luar negeri yang bejibun di tv kita pun tak mampu meninggalkan kesan dan pelajaran di benak mereka.
Seperti yang dibilang Ismed, dia menganggap kartu kuning baru akan diberikan ketika seorang pemain sudah melakukan pelanggaran sebanyak tiga kali. Entah mengapa dia tak belajar dari banyak kejadian. Logika pelanggaran yang harus diberi kartu kuning/merah adalah kualitasnya, bukan dari sisi kuantitas.
Biar baru sekali pelanggaran, tapi bikin kaki lawan patah ya pasti kartu merah. Bahkan menerjang lawan hingga patah tangan pun harus rela diusir.
Baiklah, itu sudah menjadi filosofi alami pemain Indonesia. Tapi itu menjadi peran pelatih dan wasit untuk membenahinya. Pelatih harus bisa mengarahkan pemainnya agar tidak main kasar. Keras dan kasar berbeda! Ada standar operasionalnya. Belum lagi dengan pertimbangan situasi dan kondisi. Ismed sudah mengantongi satu kartu kuning, tapi mengapa melakukan pelanggaran yang sama hingga mendapat kartu kuning kedua dan merah. Mengapa pelatih Benny Dollo tak memberi peringatan saat istirahat? Dan mengapa Ismed tak berpikir bahwa lawan masih jauh dari gawang sehingga tak perlu ditekel?
Itu pertanyaan yang bersifat question tag!
Di masa selanjutnya, saya hanya berharap wasit Indonesia mau lebih tegas menjalankan aturan. Berilah kartu kuning atau merah jika peraturan memungkinkan itu. Terapkanlah policy 10-20 menit rekomendasi komisi wasit FIFA. Dan bagi pemain tak perlu memprotes kelewat keras ketika diberi kartu. Tak perlu memegangi tangan wasit yang akan mencabut kartu dari kantung baju atau celananya. Jangan lagi ada intimidasi dari panitia pertandingan atau aparat keamanan terhadap wasit agar menguntungkan tuan rumah.
Pada akhirnya semua memang harus berjalan selaras. Koordinasi. Menjaga irama tetap sama. Dan sumber paling mendesak untuk segera sadar adalah PSSI!
Tapi ketika laga Indonesia vs Kuwait akan berakhir, kawan yang juga ikut nonton sempat bertanya. "Kenapa pemain seperti Ismed kok bisa masuk timnas?" Saya dan Zen hanya tersenyum. Kami hanya berucap; "Itu pertanyaan yang sulit dijawab." Saya pribadi tak tega untuk menjawabnya. :D




0 komentar:
Posting Komentar